“Jangan nangis, Mama-Papa. Jangan sedih atawa menyesali. Inilah aku, Produk industrialisasi yang gagap. Aku ini bagian dari putra-putri Om dan Tante-tante sekalian.
Aku mewakili generasi sebayaku yang lagi sakit.”
“Namaku Juni, My Name is June. Asal sebuah kota kecil di jawa, tapi aku warga dunia.
Berkata begitu, sembari Juni mengepakkan layang-layang merah putihnya di depan kamera televisi. Ini memang sebuah acara live, siaran langsung variety show di televisi.
“Aku adalah generasi yang hampir hilang. Kanak-kanak suka nyanyi, SD sudah kenal rokok, SLTP-SMU, aku kenyang suntikan narkotik. I’m fly ……. Flying without wing. Hehehe….. “ ia tertawa kecil, lantas terbahak-bahak, tapi air matanya berlinangan.
Jutaan pemirsa nggak bisa lagi membendung keterharuan. Seorang ibu di pojok sebuah rumah tersedu-sedan, mengusap air mata dengan sapu tangan merah jambu.
“Jangan nangis, Mama-Papa. Jangan sedih atawa menyesali. Inilah aku, produk industrialisasi yang gagap-gagap. Aku ini bagian dari putra-putri Om dan Tante-tante sekalian. Aku mewakili generasi sebayaku yang lagi sakit. Yang sedang merobek-robek sendiri masa depannya. Jangan salahin kami, Om-Tante. Kami sedang berjuang melawan reproduksi yang nggak perlu atas kami sendiri. ”
Acara televisi yang nampilin label The Indonesian Gate itu benar-benar menampar hampir seluruh ortu yang kebetulan nonton. Rantingnya langsung naik, ngalahin sinetron Tersanjung atawa liputan kunjungan presiden ke luar negeri. Sampai-sampai, seorang ibu langsung jatuh terduduk di lantai, tatkala tangannya meraih gagang telepon. Dengan isak tangis yang tulus dan bener-bener menyesal, ibu itu menelepon ke studio. Ia ngomong interaktif ke Juni.
“Halo! Ini Juni? Ini Juni, Nak?”
“June, nama
Internasionalku June, Tante.”
“Tante nggak kuat nonton kesaksianmu, June….. Juni eh …. Apapun-lah panggilanmu,”
Telepon si ibu tadi.
Di layar televisi, Juni malah tersenyum. Menang.
“kamu menderita banget mestinya ya, June?”
“Nggak tuh , Tante. Juni merasa ikhlas., sekalipun nggak berbahagia. Juni nggak merasa bersalah, meski ini bukan jalan yang paling benar.”
Jutaan pemirsa di televisi terhenyak. Mereka menanti-nanti dengan was-was, kalimat apa lagikah yang bakal muncul di Bibir Mungil indah itu.
“siapa ortu kamu, Juni? Dimana keluarga kamu?”
“oh, sungguh pertanyaan yang membuat aku berimajinasi indah tentang sebuah keluarga yang manis.”
“memangnya, dimana Papa-Mama kamu?”
“Papaku para pemulung jalanan, Mamaku bibi-bibi penyapu jalan raya. Langitku, rumahku. Aku warga dunia, nggak ada sekat, nggak ada batas.”
“Di jawab yang benar, Juni. Ini serius,” sergah Alha Royali , presenter acara itu. “bener, kak, aku nggak punya apa-apa, aku nggak punya siapa-siapa!”
Suasana hening. Kejengkelan membayang sejenak ke raut muka penonton. Seorang laki-laki setengah baya langsung masuk ke telepon interaktif pada acara itu.
“eh, sori ya Nak, pengakuan kamu ini nggak da istimewanya. Suruh deh Om cariin orang senasib dengan kamu lebih dari 100, malam ini kan Om bawa nemenin kamu di studio!” kata Om tadi dengan marah.
“ini pasti Om Deni, rumah Meruya Ilir, kan? Om kan yang ngajak Juni kemarin ke Fashion CafĂ© dan janji mau beliin longdree. Ya kan?”
“hush,ngaco!” mendadak suara si penelepon bergetar.
“eh, pemirsa, catat deh nomor handphone Om Deni kita ini, 081665472. Hehehe! Doi ini orangnya baikan, loh. Sayang, Juni nggak mau dengan itu semua. Juni memang orang yang hilang, tapi bukan remaja yang ingin ngegadein harga diri!”
Sampai di situ, telepon dari luar studio terputus. Juni masih tersenyum manis. Rambutnya yang Cuma di kuncir ekor dua, ia biarkan begitu saja. Sementara poni yang menjuntai nggak keruan di jidat, sesekali ia benerin.
“namaku Juni, My Name is June. Aku pencandu narkoba. Tapi, aku bukan ingin minta belas kasihan kamu semua. Aku pengin ngasih pekabaran bahwa Indonesia sedang influensa. Aku Cuma berharap, teman-temanku nggak pernah bingung atas pilihannya. Aku nggak nyesel menjadi pencandu narkoba, karena itu pilihan. Karena, nggak ada kehidupan lain yang lebih bisa menghibur selain mempercepat kematian. Selamat malam.”
Acara ditutup. Alha Royali nggak muncul lagi di layar teve. Namun sekilas, kamera secara nggak sengaja membidik ke adegan yang tragis. Sang presenter, Alha Royali,menangis sesenggukan di samping properti syuting.
Orang-orang yang nonton acara itu tertegun. Diam. Mengamini. Membiarkan. Kehilangan.
Rabu, 22 April 2015
Langganan:
Postingan (Atom)